Iklan


 

Air Irigasi Minim, Tanaman Cabai Rusak

Redaksi
Selasa, Maret 29, 2022 | 19:04 WIB Last Updated 2022-03-29T12:05:16Z

 

BATU BARA - Garudari.co.id |
Para petani cabai merah di Desa Titi Merah, Kecamatan Limapuluh Pesisir mengeluhkan minimnya keter­sedian air irigasi, Selasa (29/3/2022). Sebab, itu telah membuat tanaman cabainya rusak dengan daun meranggas dan batangnya kering berubah warna.

Salah satu petani cabai, Ocik Olan, 26, asal Desa Titi Merah, Kecamatan Limapuluh Pesisir, menga­takan tanaman cabai merah mi­liknya kini mulai mengering dan rusak. Itu karena minimnya suplai air irigasi. “Kalau masih sering disiram, kemungkinan tidak me­rang­gas dan kering seperti ini,” ungkapnya

Dalam hal ini para petani cabai terancam bisa menimbulkan kerugian materi, Menurut Ocik Olan, tanaman cabai yang kering dan meranggas itu hasil produksi menjadi turun. Ta­naman cabai merah seluas 10 Rantai Miliknya, bila kondisi normal bisa panen 1 hingga 2 ton, dan itu bisa dipanen hingga lebih dari 13 kali. “Kalau sudah kering seperti ini bisa kurang dari delapan ton,” jelasnya

Untungnya, terang dia, saat ini harga cabai merah masih relatif stabil, yakni berada di kisaran Rp 40.000 per kilogramnya. Jika harga cabai ikut-ikutan hancur, maka hasil panennya akan hancur pula. “Jika harganya di bawah Rp 30.000 per kilogram, kita bisa rugi besar. Biaya produksi tanaman cabai sangat tinggi,” katanya.

Petani cabai lainnya, Darmawi, 50, juga mengalami hal yang sama. Malahan, tanaman cabainya sudah banyak yang kering dan Sekarang sudah saya sirami” ujar bapak paro baya itu.

Darmawi menyebut meski pernah gagal panen, tapi kini kembali menanam cabai di lahan seluas 5 rantai. Untuk suplai air, dia selalu menyiram. “Sekarang saya tanam cabai merah juga, ini umur­nya baru satu bulan lebih, jadi suplai air harus terus diperhatikan,” katanya.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Air Irigasi Minim, Tanaman Cabai Rusak

Iklan